Argus Agung: Mahakarya Tari dan Bulu Bangsa Minangkabau
Burung Argus Besar, yang secara ilmiah dikenal sebagai Pitta elegans , adalah spesies langka yang ditemukan di hutan-hutan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Burung ini dikagumi karena keindahannya yang mencolok, dengan bulu yang cerah dan berkilauan. Burung Argus Besar memiliki panjang sekitar 18–20 sentimeter dan berat sekitar 45 gram.
Berasal dari Sumatera Barat, spesies ini terkenal karena keanggunannya yang eksotis, terutama banyaknya pola melingkar kecil yang menghiasi bulu sayapnya.
Burung jantan dan betina menunjukkan perbedaan yang jelas dalam pewarnaan bulu. Burung jantan memiliki warna yang lebih cerah, dengan nuansa hijau kebiruan di punggung dan ekor, serta warna merah karat di perut. Sebaliknya, burung betina memiliki warna yang lebih kalem, dengan warna cokelat keunguan di punggung dan ekor serta nuansa cokelat di perut.
Meskipun Argus Besar bukanlah penerbang yang luar biasa kuat, keterbatasan ini diimbangi oleh kecepatan larinya yang luar biasa dan kemampuannya untuk melompat secara efisien dari pohon ke pohon. Argus Besar Sumatra juga diklasifikasikan dalam famili Argusianus argus, yang umumnya dikenal sebagai Argus Besar.
Pesona Great Argus: Keanekaragaman Hayati Indonesia yang Menakjubkan
- Endemik di Indonesia
Spesies ini hanya dapat ditemukan di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat, Papua, dan wilayah sekitarnya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika burung ini, bersama dengan Pohon Andalas, telah ditetapkan sebagai maskot fauna dan flora resmi Sumatera Barat. Keeksklusifannya menjadikan spesies eksotis ini sangat layak dilindungi dan dilestarikan dalam jangka panjang.
- Warna Bulu yang Mempesona
Burung Argus Besar terkenal karena bulunya yang memukau. Bulunya menampilkan rangkaian warna cerah yang menakjubkan: biru, hijau, kuning, merah, dan ungu, yang tersusun dalam gradasi yang indah. Pewarnaan yang luar biasa ini menjadikan Burung Argus Besar sebagai salah satu burung yang paling mencolok secara visual di dunia.
- Vokalisasi yang Khas
Selain bulunya yang berwarna-warni, Great Argus dikenal karena suaranya yang unik dan mudah dikenali. Suaranya menyerupai “kuau-kuau-kuau,” yang diucapkan dengan nada yang bervariasi. Burung ini biasanya bersuara setiap 15–30 detik, terkadang bahkan lebih jarang. Suara khas ini diyakini sebagai asal mula nama lokalnya, “Kuau.”
Indra penciumannya yang tajam dan pendengarannya yang jeli juga membuatnya sangat sulit ditangkap, meskipun sangat dicari oleh para penggemar burung di seluruh dunia.
- Habitat di Hutan Tropis
Argus Besar mendiami hutan tropis yang lebat dan beragam. Burung ini umumnya ditemukan di hutan dataran rendah dan pegunungan di seluruh Sumatera Barat. Salah satu habitatnya yang diketahui terletak di kawasan wisata Lembah Anai. Kekayaan dan kepadatan ekosistem ini berkontribusi pada keanekaragaman hayati yang tinggi yang terkait dengan spesies ini.
- Burung Pemangsa
Burung Argus Besar termasuk dalam kelompok burung pemangsa. Burung ini memakan berbagai jenis serangga, ikan, dan hewan kecil. Dietnya yang beragam menjadikannya spesies penting untuk menjaga keseimbangan ekologis di hutan tropis.
Kebiasaan makannya juga menjelaskan mengapa burung eksotis ini membangun sarangnya di lantai hutan yang teduh, di mana ia dapat dengan mudah menemukan hewan kecil, serangga, siput, dan biji-bijian untuk dikonsumsi.
- Burung Pendeteksi Gempa Bumi
Karena instingnya yang kuat dan kepekaannya yang tinggi, Argus Agung diyakini mampu mendeteksi gempa bumi dan bahkan tsunami hingga dua hari sebelumnya. Ia dapat merasakan getaran halus sebelum bencana alam terjadi, yang seringkali dapat diamati melalui perubahan perilaku yang tidak biasa.
Ikon Sumatra
Argus Besar telah lama diakui sebagai ikon Sumatera Barat. Penetapan ini tercantum dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 48 Tahun 1989, yang menguraikan pedoman untuk menentukan identitas flora dan fauna regional.
Selain berstatus sebagai ikon provinsi, Argus Besar juga ditampilkan dalam serangkaian prangko Indonesia yang dirilis pada 15 Juli 2009, dengan tema Burung Indonesia: Harta Karun Hutan Sumatera.
Pengakuan penting lainnya datang ketika Great Argus ditunjuk sebagai maskot Hari Pers Nasional 2018, yang diadakan di Padang, Sumatera Barat. Penunjukan ini menegaskan kembali posisinya sebagai simbol penting provinsi tersebut.
Yang lebih luar biasa lagi, burung ini memiliki sejarah panjang yang meluas hingga ke panggung internasional. Ilustrasi Great Argus ditampilkan dalam buku Charles Darwin, The Descent of Man, yang diterbitkan pada tahun 1874.
Argus Agung, Burung di Ambang Kepunahan
Argus Besar adalah spesies burung endemik yang mendiami hutan tropis Asia Tenggara. Selain ditemukan di Sumatra, burung besar ini juga dapat ditemukan di Semenanjung Malaya. Burung ini umumnya mendiami hutan dataran rendah primer hingga ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut. Selama musim kawin, betina hanya bertelur dua butir dalam satu siklus reproduksi.
Eka Damayanti, Kepala Seksi Konservasi II di Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat, menjelaskan bahwa burung tersebut praktis tidak memiliki predator alami.
Ancaman terbesar bagi kelangsungan hidupnya di alam liar adalah degradasi hutan yang disebabkan oleh kegiatan penebangan ilegal, kebakaran hutan, dan perubahan penggunaan lahan. Perburuan ilegal untuk dagingnya dan pengambilan bulunya juga menimbulkan bahaya serius bagi kelangsungan hidup “raja bermata seratus” ini.
Meskipun populasi pasti Argus Besar di alam liar—khususnya di wilayah Bukit Barisan—masih belum diketahui, BKSDA Sumatera Barat telah melakukan penilaian populasi sejak pertengahan 2018 untuk menentukan distribusi burung yang menakjubkan ini dengan bulunya yang berbentuk kipas raksasa.
Untuk memastikan perlindungan Burung Argus Besar, langkah-langkah hukum telah diterapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pelestarian Spesies Tumbuhan dan Hewan.
Pada tahun 2011, International Ornithologists’ Union, sebuah organisasi ahli zoologi yang mempelajari burung di seluruh dunia, menambahkan Great Argus ke dalam daftar spesies yang membutuhkan perlindungan. Dua tahun kemudian, pada tanggal 26 November 2013, Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) merilis Daftar Merahnya, mengklasifikasikan Argus Besar di bawah Lampiran II CITES dengan status Hampir Terancam, yang menunjukkan bahwa spesies tersebut mendekati ambang batas kepunahan.
Argus Agung: Sebuah Permadani Warna, Ritme Alami, dan Kepentingan Ekologis
Argus Besar, salah satu spesies ikonik hutan tropis Sumatera Barat, dibedakan oleh pola bulunya yang mencolok dan pertunjukan perkawinan yang berirama. Dengan bulu ekornya yang panjang yang ditandai dengan “seratus mata” yang membentuk struktur seperti kipas, burung ini menjadi simbol penting dari kekayaan keanekaragaman hayati wilayah tersebut.
Di luar keindahan visualnya, perilaku alaminya—terutama selama musim kawin—mencerminkan warisan satwa liar Asia Tenggara yang luar biasa, yang jarang diamati di alam liar.
Di balik keindahannya, Great Argus memegang peran ekologis penting dalam menjaga keseimbangan hutan. Sebagai pemakan serangga, buah-buahan, dan hewan kecil, ia membantu mengatur populasi mangsa sekaligus mendukung penyebaran biji di seluruh lantai hutan.
Keberadaannya juga berfungsi sebagai indikator kunci kesehatan ekosistem, karena spesies ini hanya dapat bertahan hidup di habitat yang tidak terganggu dan terjaga dengan baik. Keberlangsungan hidupnya menggarisbawahi bahwa melindungi hutan tidak hanya melindungi habitat satwa liar tetapi juga melestarikan identitas alami Sumatera Barat.